Selasa, 22 Januari 2019

Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus


Shadow Teacher, Pendampingan ABK

Beberapa anak memang terlahir dalam keadaan spesial. Namun hak mereka untuk tetap mendapatkan pengajaran adalah sama seperti anak-anak lainnya.

SDIT Ulul Albab 2 Purworejo menerima pendaftaran khusus bagi anak-anak yang perlu mendapat pendampingan dari “Shadow Teacher”. Shadow Teacher atau guru pendamping ABK akan mendampingi anak di dalam kelas dan memberikan pengajaran sesuai dengan kemampuan anak tersebut.

Namun terbatasnya jumlah Shadow Teacher menjadikan penerimaan ABK setidaknya hanya satu siswa dalam satu tahun.

Senin, 21 Januari 2019

Generasi Qur’an “melek” Teknologi


Laboratorium Komputer

Penyediaan komputer di sekolah merupakan salah satu sarana untuk menyiapkan generasi yang mampu mengikuti tuntutan zaman. Apalagi penggunaan komputer saat ini hampir diperlukan bagi semua jenis usaha, bukan hanya bagi mereka yang bekerja di kantor atau instansi pemerintah, namun juga dalam dunia pendidikan maupun lingkungan.

SDIT Ulul Albab 2 telah memasukkan IT ke dalam pelajaran sekolah dan memberikan jam tambahan untuk ekstrakurikuler komputer. Laboratorium komputer sebagai sarana yang diberikan sekolah, dapat digunakan untuk praktek bagi anak-anak kelas 4, 5 dan 6. Didampingi oleh guru pengampu, masing-masing anak akan mencoba menjalankan program dasar Ms. Word, Ms. Exel dan Ms. PowerPoint.

Ekstrakurikuler Komputer
Sedangkan untuk pengembangan kreatifitas, anak-anak dapat mengikuti ekstrakurikuler komputer yang dilakukan di jam ekstra. Disini anak-anak didampingi oleh guru pengampu dan pendamping yang akan memberikan latihan ekstra dalam penggunaan komputer.


Jumat, 18 Januari 2019

Spesialnya Kelas Tahfidz

kegiatan menghafal kelas tahfidz

Kelas tahfidz adalah salah satu program unggulan di SDIT Ulul Albab 2 Purworejo. Kelas ini terdiri dari siswa siswi yang telah lolos seleksi kelas tahfidz di kelas 3, dan rata-rata telah dinyatakan memiliki bacaan Quran yang baik, hafalan yang baik, semangat serta motifasi yang baik dalam menghafal al quran.

Selain kesiapan dan kemampuan siswa dalam menghafal, peran orang tua wali juga diutamakan. Terutama kesiapan wali untuk mendampingi putra putrinya dalam hal menghafal Al Quran. Hal tersebutlah yang membedakan kelas tahfidz dan kelas non tahfidz.

Dengan berbagai program pendukung dan fasilitas yang diberikan sekolah, siswa siswi yang berada di kelas tahfidz mendapat target minimal hafal 4 juz sampai lulus. Sejauh ini pencapaian tertinggi dari kelas tahfidz adalah 11 juz dan kedepannya target minimal akan terus ditingkatkan.

Demi tercapainya target tersebut, program-program khusus pun ditambahkan untuk kelas ini seperti muqoyyam quran, seminar motivasi, penambahan jam tahfidz, dan bina prestasi tahfidz. Outing class juga ditambahkan dalam program untuk lebih mengenalkan Al Quran lewat alam, seperti rihlah dan haflah.
Ustadz Mustajab sebagai salah satu guru pendamping tahfidz selalu mengingatkan agar siswa siswinya memegang kunci-kunci sukses dalam menghafal.

"Agar kita merasa mudah dan ringan dalam menghafal, maka kita harus menjaga adab dan akhlaq, menjauhkan diri dari maksiat dan memperbanyak ibadah." Ungkap Beliau.
"Konsumsi makanan dan minuman yang halal dan toyyib, menjaga himmah semangat dan keistiqomahan si penghafal quran juga penting. Meski begitu, lingkungan dan keluarga juga menjadi faktor penentu. Jika lingkungan, terutama keluarga mendukung, maka proses menghafal akan lebih mudah."

Dengan begitu, ustadz Mustajab berharap bahwa kelas tahfidz dapat terus berkembang dan menjadi lebih baik. Beliau pun berharap agar kelak siswa siswi di kelas tahfidz memiliki kualitas yang lebih baik daripada guru-guru mereka dalam hal apapun.

Selasa, 08 Januari 2019

Program Unggulan - Kelas Tahfidz



SDIT Ulul Albab 2 Purworejo adalah salah satu sekolah dasar islam terpadu di kabupaten Purworejo Jawa Tengah yang beralamat di Jl Ir H Juanda ringroad selatan. Dengan akreditasi A dan berbagai prestasi yang telah diraih baik oleh guru maupun siswa, sekolah ini telah diakui sebagai salah satu sekolah dasar terbaik di Purworejo.

Dipandu dan dipantau langsung oleh Jaringan Sekolah Islam Terpadu Indonesia (JSIT Indonesia) maka kualitas sekolah ini sudah terintegrasi secara nasional.


Student Active Learning


Selain mengedepankan prestasi akademik, SDIT Ulul Albab 2 juga menyelaraskan akhlak yang baik bersama prestasi yang baik. Nilai-nilai keagamaan pun diberikan dalam kegiatan pembelajaran di kelas maupun di luar kelas. Seperti belajar membaca, mentarjim dan menghafal Al Qur'an yang kemudian menjadi salah satu program unggulan di sekolah ini.


Untuk siswa siswi yang memiliki keinginan dan kemampuan dalam menghafal Al Qur'an, sekolah membuat kurikulum khusus untuk kelas tahfidz. Dengan menambah jam belajar untuk menghafal Al Qur'an dan dibimbing khusus oleh guru hafidz, setiap siswa ditargetkan mampu menyelesaikan minimal 4 juz sampai lulus. Kelas khusus ini dimulai sejak kelas 4 hingga kelas 6.


"Kelas tahfidz ini berisi siswa siswi yang dianggap memiliki kesiapan dan kemampuan dalam menghafal serta kesiapan wali dalam mendampingi putra putrinya." Ungkap Ust. Mustajab, salah satu ustadz pendamping kelas tahfidz.


Dengan metode Student Active Learning, siswa siswi bisa memilih sendiri cara yang cocok untuk menghafal lalu guru akan memandu masing-masing anak.

Pendampingan Kelas Tahfidz


Kelas tahfidz adalah salah satu program unggulan di SDIT Ulul Albab 2 Purworejo. Dengan adanya program ini, diharapkan siswa siswi yang memiliki keinginan dan kemampuan untuk menjadi seorang hafidz bisa terfasilitasi dan untuk mewujudkan harapan sekolah yang tertuang dalam visi misi yakni membangun generasi masa depan yang bertaqwa, berbudi, berprestasi dan berwawasan lingkungan.

penulis @issuchii

Masjid Al Muhajirin SDIT Ulul Albab 2 Purworejo

Masjid sebagai Sentra Ibadah SDIT Ulul Albab 2


Masjid Al Muhajirin merupakan sentra aktifitas keagamaan di SDIT Ulul Albab 2. Berada di area sekolah, masjid ini mampu menampung kurang lebih 300 orang jamaah. Dilengkapi dengan peralatan sound system yang memadai, karpet, kipas angin, dan suasana yang sejuk, membuat masjid menjadi tempat yang nyaman untuk beribadah.

Berbagai kegiatan keagamaan dilakukan disini seperti shalat berjamaah, tilawah, shalat sunnah, hafalan, murajaah, hingga kajian-kajian rutin untuk wali murid, guru dan karyawan.


Secara khusus shalat berjamaah di masjid SDIT Ulul Albab 2 hanya menyertakan siswa kelas 4, 5 dan 6, sementara untuk kelas yang lebih kecil diarahkan untuk latihan shalat berjamaah di kelas masing-masing. Untuk kelas kecil juga disertai dengan motivasi tentang keutamaan shalat berjamaah dan hafalan bacaan shalat.

Masjid Al Muhajirin SDIT Ulul Albab 2 Purworejo

Pembagian ini dilakukan karena anak-anak kelas besar dianggap sudah mampu menjaga adab-adab selama di masjid daripada adik-adik kelas yang lebih kecil.

Shalat berjamaah memang perlu dibiasakan sejak dini karena shalat berjamaah melatih anak-anak untuk lebih menghargai waktu. Siswa pun menjadi lebih disiplin dan terbiasa untuk sholat di awal waktu. Selain itu untuk shalat berjamaah di masjid juga akan membuat anak lebih mencintai masjid dan membuat mereka merasa lebih dekat kepada Allah SWT.

penulis Ulfa
Editor @issuchii

Senin, 18 September 2017

Peringatan Hari Kemerdekaan 2017


PERINGATAN HARI KEMERDEKAAN

 Peringatan hari kemerdekaan dilaksanakan pada 17-18 Agustus 2017.
Upacara penaikan bendera dilaksanakan pada tanggal 17 Agustus
dan lomba-lomba dilaksanakan keesokan harinya.

Kegiatan ini dilakukan bertujuan untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia
dan untuk mengenang jasa para pahlawan.
 
Upacara Penaikan Bendera


Lomba balap sepedah lambat
 Siapa yang paling lambat dan tidak jatuh, dia yang menang ^^

Lomba memecahkan air
Lomba Balap Karung
 Pakai helm juga supaya menantang ^_^

Lomba menghias nasi goreng

penyerahan hadiah setelah semua lomba selesai

Selasa, 21 Maret 2017

Menjadi Guru yang Visioner

Setiap manusia pasti mempunyai visi, tujuan, impian, atau harapan. Visi merupakan  harapan masa depan yang merupakan kekuatan penggerak bagi seseorang. Dengan visi  seseorang tergerak untuk melakukan sesuatu. Karena mengganggap begitu pentingnya visi, sampai-sampai seorang Nabi, yaitu Nabi Ibrahim rela menyembelih anak kesayangannya. Ya, demi visi pengabdiannya kepada Allah SWT, Nabi Ibrahim rela mengorbankan buah hatinya.
Seorang milyader,  yaitu Bill Gate pernah mengatakan “If you have a clear vision you will even forget your breakfast” (Apabila anda telah memiliki visi yang jelas, anda akan lupa dengan makan pagi anda).
           
K.H. Abdullah Gimnastiar  pernah mengatakan, “Saudaraku, Islam sangat mengajarkan kepada kita untuk berpikir jauh ke depan atau visioner. Kita diajak berpikir tentang kematian yang belum pernah kita jalani, dengan target yang jelas yaitu husnul khotimah. Harus jelas goalnya. Kalau ada yang bertanya apakah kesuksesan itu, maka kesuksesan sesungguhnya tidak bisa diukur sebelum kita mati. Karena kesuksesan versi manusia itu sebenarnya adalah ujian.”
           
Dalam kaitannya tentang visi, Allah menegaskan dalam Qur’an Surat Al Hasyr ayat 18, yang artinya  “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al Hasyr:18). Jadi, orang yang visioner akan bertindak segera untuk mempersiapkan hari esok. Dia akan memperhatikan apa-apa yang dia lakukan untuk hari esok. Sungguh, sangat berbeda dengan apa yang disebut dengan panjang angan-angan.

Dalam ayat yang lain Allah Swt berfirman yang artinya, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS: Adz-Dzariat: 56). Orang yang visioner akan berkomitmen untuk menjadikan seluruh aktifitasnya, pikirannya, jiwanya, raganya, hidupnya, matinya, sebagai persembahan kepada Allah Swt semata. Ia benar-benar memahami, mengamalkan  dan menghayati janji setianya kepada Allah Swt yang diperintahkan oleh Allah Swt dalam firmannya:
قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَاي وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”.  QS. Al-An’am: 162-163.

Ia hidup untuk satu tujuan, yaitu ridho Allah. Ia hidup untuk satu tugas, yaitu ibadah hanya kepada Allah semata. Ia benar-benar dihidupkan oleh syahadatnya. Ia berfikir dengan syahadatnya. Ia bergerak dengan syahadatnya. Ia menilai dan memandang segala sesuatu dengan syahadatnya. Karena syahadatnya, maka ia optimis. Karena syahadatnya, maka ia berani dalam kebenaran. Karena syahadatnya, maka ia berdakwah. Karena syahadatnya, maka ia selalu belajar Islam tiada henti. Karena syahadatnya, maka ia senantiasa berjuang memperbaiki dirinya dan memperbaiki orang lain. Karena syahadatnya, maka ia menjadikan Nabi Muhammad Saw sebagai pemimpinnya, ikutannya, sumber motivasi hidupnya. Ia selalu berfikir kebaikan dan perbaikan. Itulah jiwa kepribadian seorang muslim sejati. Itulah pemikiran dan perilaku seorang muslim pembelajar. Itulah gambaran seorang muslim yang visioner.
Itulah visi kehidupan bagi seorang manusia. Guru sebagai bagian dari komunitas manusia tentu juga memiliki visi seperti itu. Namun di sisi lain guru harus punya visi  special sesuai dengan profesinya. Guru yang visioner adalah guru yang memiliki visi  yang jelas, memiliki gambaran masa depan yang jelas, dan memiliki semangat untuk mewujudkannya dalam setiap aktivitas profesinya. Guru yang memiliki visi, tetapi tidak mempunyai semangat untuk mewujudkannya belum dapat dikatakan sebagai guru yang visioner. Apalagi guru yang tidak punya visi, jelas bukan guru yang visioner.
Guru visioner adalah guru yang senantiasa berorientasi pada tujuan pendidikan. Guru visioner yaitu guru yang selalu bersandar pada landasan filosofis pendidikan yang tersurat dalam Pembukaan UUD 1945, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Guru visioner adalah guru yang senantiasa mengembangkan diri dalam meningkatkan kompetensinya sebagai upaya meningkatkan kinerja guru, kualitas pembelajaran dan hasil belajar peserta didik.
 Mengapa harus menjadi guru yang visioner? Dengan menjadi guru yang visioner, maka:
1.      Segala aktivitas profesinya menjadi terencana dan terarah.
2.      Target yang akan dicapai jelas dan terukur.
3.      Memiliki tolok ukur keberhasilan yang pasti.
4.   Akan lebih mudah menyesuaikan dengan perkembangan dan tuntutan zaman, tidak tertutup dan bahkan pobi terhadap perubahan.

Menurut Barbara Brown, untuk dapat menjadi guru yang visioner perlu memiliki 10 kompetensi, yaitu:
1.    Visulaizing. Mempunyai gambaran yang jelas tentang apa yang hendak dicapai dan kapan hal itu dapat tercapai.
2.      Futuristic Thinking . Tidak hanya memikirkan kondisi saat ini, akan tetapi lebih memikirkan kondisi yang diinginkan pada masa yang akan datang. 
3.    Showing Foresign . Perencana yang dapat memperkirakan masa depan. Dalam membuat rencana tidak hanya mempertimbangkan apa yang hendak dilakukan, akan tetapi mempertimbangkan teknologi, prosedur, organisasi dan faktor lain yang dapat mempengaruhi rencana.
4.    Proactive Planning . Menetapkan sasaran dan srategi yang spesifik beserta kemampuan antisipasi atau pertimbangan, rintangan potensial dan pengembangan rencana darurat untuk menanggulangi hambatan itu.
5.    Creative Thinking.  Dalam menghadapi tentangan selalu berusaha mencari alternatif pemecahannya dengan memperhatikan issu, peluang dan masalah.
6.     Taking Risks . Berani mengambil risiko dan menganggap kegagalan sebagai peluang, bukan sebuah kemunduran.
7.    Prosecc Alignment . Memiliki kemampuan bagaimana cara mengubungkan sasaran dirinya dengan sasaran organisasi.
8.   Coating Alignment . Menyadari bahwa dalam mencapai tujuan harus bekerja sama menciptakan hubungan harmonis baik ke dalam maupun ke luar.
9. Continuous Learning . Mempu secara teratur mengikuti pelatihan dan pendidikan dalam mengembangkan profesionalismenya untuk memperluas pengetahuan, memberikan tantangan berpikir, dan mengembangkan imajinatif.
10.  Embracing Change.  Mengetahui bahwa perubahan adalah bagian penting bagi pertumbuhan dan pengembangan kemampuan. Ketika ditemukan perubahan yang diinginkan atau tidak, segera aktif menyelidiki jalan yang memberikan manfaat dari perubahan tersebut.
Ada empat kriteria berkaitan dengan visi guru menurut Anies Baswedan, meliputi:
1. Mengajar (to teach)
2. Mendidik (to educate)
3. Menginspirasi (to inspire)
4. Menggerakan (to move)

Mengajar(toteach)
           Implementasi visi guru mengajar, guru melakukan transfer of knowledge (mentransfer ilmu pengetahuan) kepada peserta didik, memberikan informasi secara faktual tentang kebenaran suatu teori atau ilmu serta memprediksi fenomena alam dan sosial ditinjau dari ilmu pengetahuan yang dimiliki. Kompetensi yang dibutuhkan untuk mewujudkan visi ini adalah kompetensi profesional guru yakni memahami materi/bahan ajar dan struktur ilmu.

Mendidik(toeducate)
           Implementasi visi guru mendidik, guru melakukan transfer of values (mentransfer nilai-nilai) kebaikan, menanamkan karakter atau sikap, baik sikap spiritual keagamaan maupun sikap sosial dalam upaya memanusiakan peserta didik sehingga membantu menyelesaikan
masalahnya dalam kehidupan. Kompetensi yang dibutuhkan untuk mewujudkan visi ini adalah kompetensi pedagogik dalam memahami karakteristik peserta didik, melakukan proses pembelajaran yang mendidik dan penguasaan terhadap ilmu mendidik serta teori belajar.

Menginspirasi(toInspire)
         Implementasi visi guru menginspirasi, guru mampu membangun karakter positif dan komunikasi yang efektif untuk dirinya, peserta didiknya, teman sejawatnya, dan lingkungannya, baik lingkungan pendidikan maupun lingkungan masyarakat dalam menginspirasi menuju kualitas kehidupan yang lebih baik. Guru dalam konteks menginspirasi adalah menjadi contoh teladan (role model) yang akan senantiasa digugu dan ditiru, sehingga kompetensi yang dibutuhkan adalah kompetensi kepribadian dan sosial.
           Menginspirasi peserta didik, guru dituntut untuk senantiasa memiliki ketaatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, keteladanan, kearifan, kestabilan, kejujuran dan kedisiplinan. Kemampuan kepribadian ini dijabarkan dalam sikap dan tindakan sesuai dengan norma agama, hukum, sosial dan kebudayaan nasional Indonesia.Kepribadian baik yang ditampilkan seorang guru akan menunjukan pribadi yang dewasa dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat, sehingga dapat menunjukan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, serta rasa bangga menjadi guru.

Menggerakkan(tomove)
            Menggerakan memiliki pengertian mampu menggerakan orang lain. Dalam konteks edukasi, berarti guru yang mampu menggerakan peserta didik dan lingkungannya untuk berbuat lebih baik dan melakukan tindakan yang positif sekaligus produktif yang berguna bagi kemajuan sekolah, bangsa, negara dan agama. Visi menggerakkan menuntut guru untuk memiliki kompetensi sosial yang tinggi, yakni berkomunikasi secara efektif, empatik dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua dan masyarakat secara persuasif untuk melakukan tindakan-tindakan secara sukarela yang berhubungan dengan kemajuan pendidikan.
Salah satu contoh implementasi guru visioner dalam pembelajaran adalah dengan mengembangkan peserta didik untuk  menjadi anak yang inovatif. Beberapa kiat yang dapat ditempuh guru untuk mengembangkan peserta didik yang inovatif, antara lain dengan cara:

a.       membuka diri dengan sikap inovasi peserta didik, misalnya dengan membuka pertanyaan, diskusi, memfasilitasi kegiatan yang membangkitkan semangat untuk menemukan sesuatu. Memfasilitasi kegiatan penelitian, uji coba, dan eksperimen lainnya.

b.    merangsang peserta didik pada kegiatan yang membutuhkan daya cipta,misalnya dengan mengembangkan metode pembelajaran yang menarik, mengajak peserta didik dalam pembelajaran di luar kelas, mengembangkan keterampilan mengajar berbasis penugasan atau proyek, mengembangkan metode permainan dalam berbagai mata pelajaran yang diajarkan.

c.             melatih kepekaan peserta didik terhadap lingkungan sekitar, dengan memanfaatkan barang yang sudah ada atau barang bekas. Mengarahkan peserta didik untuk peduli terhadap isu lingkungan hidup. Tanamkan dan biasakan diri untuk melakukan tindakan 3 R (reuse, recycle, reduce). Prinsip reuse artinya menggunakan kembali barang yang masih bisa digunakan, misalnya mengisi kembali kemasan botol minuman. Prinsip recycle artinya mendaur ulang sesuatu menjadi sesuatu yang berguna, misalnya kemasan botol minuman dibentuk menjadi benda pakai sekaligus benda seni berupa tempat pensil dengan modifikasi dan nilai artistik pada beberapa bagian botol. Reduce artinya mengurangi potensi pencemaran, misalkan menggunakan air sesuai dengan kebutuhan, mematikan lampu yang tidak digunakan, belanja mengurangi penggunaan kantong plastik dalam penyimpanan barang belanjaan.


d.     memberikan pengalaman baru yang beragam kepada peserta didik. Pengalaman baru yang dimaksud adalah aktivitas pembelajaran yang mengembangkan daya kreatif dan inovatif peserta didik. Pengalaman yang dapat merangsang peserta didik untuk berpikir out of box (di luar pemikiran pada umumnya) seperti menciptakan sesuatu dari barang bekas, berkebun, berkemah, membuat alat yang dapat menjadi jawaban permasalahan dewasa ini misal alat penjernih air sederhana, masker anti polusi, pemanfaatan kompos sebagai energi alternatif dan sebagainya. (Drs. Aris Akhmad)